Rabu, 28 Maret 2012

TEORI DAN ISU-ISU SOSIAL KOTA


TEORI DAN ISU-ISU SOSIAL KOTA
A.     Teori Sosial Kota
”Manusia membuat sejarahnya mereka sendiri, tetapi mereka tidak melakukan itu hanya mereka suka, mereka membuat dalam kondisi-kondisi yang tidak mereka tentukan sendiri, tetapi di bawah kondisi – kondisi yang telah ada, given dan ditransmisikan dari masa lalu. Tradisi generasi terdahulu menjadi beban-beban, seperti mimpi buruk dalam otak kehidupan”
(The Marx – Engels Reader, dalam Robert C. Tucker (ed). 1978 : 595)

Kota sebagai arena kontestasi ekonomi, politik, pertahanan, dan juga kebudayaan. Arti kota harus dimaknai secara komprehensif, bukan hanya sebagai arena kontestasi ekonomi dan politik semata yang ujung-ujungnya berkubang pada persoalan materi dan ukuran-ukuran kelas kekayaan. Kota harus menjadi tempat yang nyaman bagi penduduknya dan memikat orang-orang diluar kota itu sendiri. Kota Mempunyai makna yang berarti suatu ruang atau space materi sekaligus non materi bagi orang-orang yang menghuni di dalamnya. Kota bukan hanya seperangkat benda-benda dan properti-properti yang menandai kebudayaan serta geliat peradaban suatu tempat.
Teori-teori yang melandasi struktur ruang kota yang paling dikenal adalah :
1.    Teori konsentris dan Sektoral yang menyatakan bahwa daerah pusat kota atau Central Bussiness District (CBD) adalah pusat kota yang letaknya tepat di tengah kota dan berbentuk bundar atau bulat yang merupakan pusat kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik serta merupakan zona dengan  derajat aksesibilitas tinggi dalam sebuah kota. Central Bussiness tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
a.    Bagian paling inti atau Retail Bussiness District (RBD) dengan kegiatan dominan pertokoan, perkantoran, dan jasa.
b.    Bagian diluarnya atau Wholesale Bussiness District (WBD) yang ditempati oleh bangunan dengan peruntukan kegiatan ekonomi skala besar, seperti pasar, pergudangan, dan gedung penyimpanan barang supaya tahan lama.
2.    Teori Pusat Berganda yang menyatakan bahwa daerah pusat kota atau CBD adalah pusat kota yang letaknya relative di tengah-tengah sel-sel lainnya dan berfungsi sebagai salah satu growing points. Zona ini menampung sebagian besar kegiatan kota, berupa pusat fasilitas transportasi dan didalamnya terdapat distrik khusus perbankan, teater dan lain-lain. Pada teori ini, terdapat banyak daerah pusat kota dan Central Bussiness District dan letaknya tidak persis di tengah kota dan tidak selalu berbentuk bundar.
3.    Teori Konsektoral yang menyebutkan bahwa DPK atau CBD merupakan tempat utama dari perdagangan, hiburan dan lapangan pekerjaan. Di daerah ini terjadi proses perubahan yang cepat sehingga mengancam nilai historis dari daerah tersebut. contoh kota yang disebutkan dalam teori ini adalah kota di Amerika Latin.
4.    Teori Historis yang menyebutkan bahwa DPK atau CBD dalam teori ini merupakan pusat segala fasilitas kota dan merupakan daerah dengan daya tarik tersendiri dan aksesibilitas yang tinggi.
5.    Teori Ketinggian Bangunan yang menyatakan bahwa perkembangan struktur kota dapat dilihat dari variabel ketinggian bangunan. DPK atau CBD secara garis besar merupakan daerah dengan harga lahan yang tinggi, aksesibilitas sangat tinggi dan ada kecenderungan membangun struktur perkotaan secara vertikal.
6.    Teori pertumbuhan kota Menurut Spiro Kostof Kota adalah Leburan Dari bangunan dan penduduk, sedangkan bentuk kota pada awalnya adalah netral tetapi kemudian berubah sampai hal ini dipengaruhi dengan budaya yang tertentu. Bentuk kota ada dua macam yaitu geometri dan organik. Terdapat dikotomi bentuk perkotaan yang didasarkan pada bentuk geometri kota yaitu Planned dan Unplanned.
a.      Bentuk Planned (terencana) seperti contohnya pada kota-kota eropa abad pertengahan dengan pengaturan kota yang selalu regular dan rancangan bentuk geometrik.
b.      Bentuk Unplanned (tidak terencana) banyak terjadi pada kota-kota metropolitan, dimana satu segmen kota berkembang secara sepontan dengan bermacam-macam kepentingan yang saling mengisi, kota akan memiliki bentuk semaunya yang kemudian disebut dengan organik pattern.
Dalam suatu kota organik, terjadi saling ketergantungan antara lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Contohnya : jalan-jalan dan lorong-lorong menjadi ruang komunal dan ruang publik yang tidak teratur tetapi menunjukkan adanya kontak sosial dan saling menyesuaikan diri antara penduduk asli dan pendatang, antara kepentingan individu dan kepentingan umum. Perubahan demi perubahan fisik dan non fisik (sosial) terjadi secara spontan. Apabila salah satu elemenya terganggu maka seluruh lingkungan akan terganggu juga, sehingga akan mencari keseimbangan baru. Demikian ini terjadi secara berulang-ulang. Di dalam model organik ini, organisasi ruang telah membentuk kesatuan yang terdiri dari unit-unit yang memiliki fungsi masing-masing.
Pendekatan neo-dualis sosiologi perkotaan meninjau penggunaan lahan kota baik sebagai “produk” maupun “proses” bukan persoalan sosiologi perkotaan secara khusus ataupun persoalan geografi, tetapi juga sosiologi secara umum. Kota dipandang sebagai suatu obyek studi dimana di dalamnya terdapat masyarakat manusia yang sangat kompleks, telah mengalami proses interelasi antar manusia dan antara manusia dengan lingkungannya. Lahan perkotaan sebagai produk dari interelasi penghuninya tercipta karena adanya keteraturan penggunaan lahan. Sedangkan dinamika kota sebagai proses merupakan bentuk artikulasi kelompok-kelompok yang mengalami proses interelasi yang sangat kompleks. Struktur ruang tidak dapat dikaitkan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat kota. Struktur ruang merupakan suatu produk sejarah yang harus dilihat sebagai kreasi agen-agen sosial atau aktor-aktor yang bersifat kolektif, interaksi, strategi, keberhasilan dan kegagalan agen-agen membentuk kualitas dan karakteristik ruang kota. Kota ada dan keberadaannya dirasakan melalui perlawanan, konflik, model, gaya hidup, dan lain-lain. Negara sebagai reprentasi kekuasaan memiliki karakter dominan dalam upaya merebut penggunaan lahan perkotaan, melalui reproduksi aturan sebagai bentuk sumberdaya kekuasaan.
Tidak netralnya sebuah ruang sosial perkotaan menjadikan apa yang sahih untuk suatu kota bisa jadi tidak relevan bagi kota lain. Karakter kota di suatu masyarakat lain atau pada periode sejarah yang lain. Sehingga dalam melakukan pendekatan dalam kota ialah dengan melupakan definisi-definisi yang berlaku secara umum dan memulai dari perspektif relativis, yaitu berkaitan dengan keanekaragaman kota itu, dan apa yang menjadi haknya. Perspektif ini amat dibutuhkan terutama bagi berbicara tentang perkotaan di Negara Berkembang. Tradisi perkotaan di Asia Tenggara saat ini adalah heterogenitas (keberagaman), orientasi keluar, dan dalam perubahan yang terintergrasi ke dalam masyarakat secara keseluruhan.
B.     ISU-ISU SOSIAL KOTA
Isu-isu sosial yang banyak terjadi di wilayah perkotaan menimbulkan permasalahan yang sangat serius. Masalah sosial di perkotaan adalah pertambahan penduduk yang tidak terkendali, tingkat kesadaran & kepedulian masyarakat kota dengan lingkungan di sekitar itu rendah sekali sehingga berdampak sangat besar, disini hukum rimba pun berlaku diamana yang kuat dia yang berkuasa dan yang lemah pasti akan tertindas, terjadilah kesenjangan sosial yang menyebabkan ketidak seimbangan dalam kehidupan perkotaan. dimana orang hanya akan memperdulikan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang lain lagi. Sekarang tinggal dari pemerintahan kota sendiri bagaimana mau menanganinya apakah kota tersebut mau di jadikan kota komersial atau kota budaya atau kota industri, sehingga karakteristik kota tersebut ada. kota dianggap dapat memenuhi kebutuhan semua orang karena berbeda dengan desa.
Isu-isu social kota menyebabkan konflik social yang dilatarbelakangi berbagai factor. Pertama, konflik social yang tumbuh karena masyarakat terdiri atas sejumlah kelompok social yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, yang terpisahkan oleh strata social. Kedua, kemiskinan bisa menjadi pemicu konflik social. Ketimpangan social antara orang kaya dan miskin menimbulkan rasa ketidakadilan. Ketiga, konflik social bisa terjadi karena proses urbanisasi yang besar-besaran, biasanya terjadi konflik antara pendatang dan penduduk asli di daerah tersebut. Keempat, konflik yang terjadi antara kelompok social yang mempunyai karakteristik dan perilaku yang inklusif, dan menimbulkan prototype, prasangka, stigma dan curiga atau kecemburuan antar kelompok.
Sepertinya yang umum sih masalah akses sumber daya yang tak merata, mulai dari yang fisik ( misalnya air, perumahan), hingga non-fisik (kesehatan, pendidikan, kesempatan kerja). Karena akses tidak merata, terjadi kesenjangan, rebutan, kriminalitas yang juga bisa dilihat sebagai masalah tapi bisa juga sebagai keuntungan adalah struktur hubungan antar manusia di kota yang konon tidak seerat di desa, nilai-nilai 'modern' seperti mementingkan individu, materi dan kompetisi. Sisi baiknya dari masalah ini adalah orang terpacu untuk lebih baik, tidak melulu menerima dan tidak terlalu mencampuri urusan orang lain. Keragaman di kota, yang bisa menimbulkan friksi tapi bisa juga saling mendukung kalau bisa dikelola dengan baik. Secara garis besar, isu-isu tersebut antara lain:
1.    Banyaknya kemiskinan, dengan angka pengangguran yang sangat tinggi,
2.    Tingginya angka urbanisasi, menyebabkan banyak kejahata kejahatan dalam lingkungan sosial masyarakat kota,
3.    Mahalnya biaya kesehatan dan minimnya kesejahteraan ibu & anak,
4.    Masalah kurangnya tempat tinggal karena padatnya jumlah penduduk, menyebabjan kurangnya area terbuka hijau,
5.    Tingkat polusi udara, air & suara yang tinggi,
6.    Masalah sampah yang perlu penanganan, sanitasi lingkungan, drainase untuk pencegahan banjir dll.

Referensi
Drs.Jefta leibo,S.U. 2004. Problem perkotaan dan konflik sosial sebuah perspektif sosiologi. Yogyakarta : inpedham.
Drs.Sapari ImamAsy”ari. 1993. Sosiologi kota dan desa. Surabaya : usaha nasional Surabaya.
Hariyono Paulus, 2004, Sosiologi kota untuk arsitek, Cetakan 1, Jakarta: Bumi Aksara.
Wirawan. 2009. Konflik dan Manajemen Konflik. Jakarta : Salemba Humanika.

Selasa, 27 Maret 2012

Pembangunan Kota Berkelanjutan


PEMBANGUNAN KOTA BERKELANJUTAN
A.   Pengertian Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris, sustainable development. Istilah pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dalam World Conservation Strategy (Strategi Konservasi Dunia) yang diterbitkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), dan World Wide Fund for Nature (WWF) pada 1980.
Menurut Brundtland Report dari PBB (1987), pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan”.
Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.

B.   Indikator / Kriteria Pembangunan Berkelanjutan
Secara umum konsep pengembangan kota berkelanjutan didefinisikan sebagai pengembangan kota yang mengedepankanadanya keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan hidup. Keseimbangan ini penting untuk menjamin adanya keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia, tanpa mengurangi peluang generasi yang akan datang untuk menikmati kondisi yang sama.
Djajadiningrat (2005) dalam buku Suistanable Future: Menggagas Warisan Peradaban bagi Anak Cucu, Seputar Pemikiran Surna Tjahja Djajadiningrat, menyatakan bahwa dalam pembangunan yang berkelanjutan terdapat aspek keberlanjutan yang perlu diperhatikan, yaitu:
1)    Keberlanjutan Ekologis
2)    Keberlanjutan di Bidang Ekonomi
3)    Keberlanjutan Sosial dan Budaya
4)     Keberlanjutan Politik
5)     Keberlanjutan Pertahanan Keamanan
Prof. Otto Soemarwoto dalam Sutisna (2006), mengajukan enam tolok ukur pembangunan berkelanjutan secara sederhana yang dapat digunakan baik untuk pemerintah pusat maupun di daerah untuk menilai keberhasilan seorang Kepala Pemerintahan dalam pelaksanaan proses. pembangunan berkelanjutan. Keenam tolok ukur itu meliputi:
a)    Pro Ekonomi Kesejahteraan, maksudnya adalah pertumbuhan ekonomi ditujukan untuk kesejahteraan semua anggota masyarakat, dapat dicapai melalui teknologi inovatif yang berdampak minimum terhadap lingkungan.
b)    Pro Lingkungan Berkelanjutan, maksudnya etika lingkungan non antroposentris yang menjadi pedoman hidup masyarakat, sehingga mereka selalu mengupayakan kelestarian dan keseimbangan lingkungan, konservasi sumberdaya alam vital, dan mengutamakan peningkatan kualitas hidup non material.
c)    Pro Keadilan Sosial, maksudnya adalah keadilan dan kesetaraan akses terhadap sumberdaya alam dan pelayanan publik, menghargai diversitas budaya dan kesetaraan jender.
C.   Zoning Regulation untuk Mewujudkan Kota Berkelanjutan
Rencana tata ruang kota yang baik nampaknya juga belum cukup untuk mewujudkan keberlanjutan. Dalam upaya implementasinya rencana tata ruang harus disertai dengan perangkat peraturan zonasi (zoning code), yang mengatur secara tegas kegiatan apa yang boleh, apa yang bersyarat dan apa yang dilarang pada setiap jenis zona peruntukan.
Pelanggaran terhadap peraturan pemanfaatan tersebut akan diancam dengan sanksi. Tanpa peraturan semacam ini, rencana tata ruang hanya akan menjadi macan kertas. Bisa menggonggong tapi tidak bisa menggigit. Sehingga benar apabila dikatakan: better regulation without planning, than planning without regulation. Peraturan zonasi ini tentu juga harus bersifat pro-lingkungan, terutama terkait dengan upaya perlindungan dan pemulihan terhadap kawasan-kawasan yang berpotensi menurunkan daya dukung kawasan, seperti pengaturantentang persyaratan RTH di lahan-lahan privat dan kawasan hunian, ketentuan tentang sempadan sungai, danau, dan pantai serta lokasi-lokasi yang diperuntukkan sebagai daerah resapan dan genangan sementara (retention basin). Artinya pengembangan kawasan perkotaan harus mendahulukan kepentinagn lingkungan.

Referensi
Suresh , BS “Globalization And Urban Environmental Issues And Challenges”Suresh, BS "Globalisasi Dan Masalah Lingkungan Perkotaan Dan Tantangan"
in Martin J.Martin J. Bunch, V. Madha Suresh and T. Vasantha Kumaran, eds ., Proceedings of the ThirdBunch, V. Suresh Madha dan T. Vasantha Kumaran, eds, Prosiding Ketiga. Konferensi Internasional tentang Lingkungan dan Kesehatan, Chennai, India, 15-17 Desember,  2003. Chennai: Department of Geography, University of Madras and Faculty of Chennai: Departemen Geografi, Universitas Madras dan Fakultas Environmental Studies, York University. Studi Lingkungan Hidup, York University.

Teori dan Isu Lingkungan Kota


TEORI LINGKUNGAN KOTA
 Lingkungan fisik kota terbentuk oleh berbagai unsur tiga dimensi: sifat rancangan; lokasi dan kaitan posisi elemen satu dengan elemen lainnya, merupakan faktor penentu kejelasan ciri-sifat lingkungan tersebut (Sudrajat, 1984). Meskipun unsur pembentuk lingkungan perkotaan di berbagai tempat pada dasarnya relatif sama, tetapi susunannya selalu berlainan, sehingga bentuk, struktur dan pola lingkungan yang dapat dipahami dan dicerna manusia pada tiap lingkungan kota senantiasa berbeda-beda.
a.    Teori beban lingkungan ( environment load teori )
Premis dasar teori ini adalah manusia yang mempunyai kapasitas yang terbatas
Teori hambatan perilaku ( Behaviour Constraints Theory )dalam proses informasi. Menurut Cohen ( fisher, 1985; dalam Veitch & Arkkelin, 1995 ). Ada 4 asumsi dasar teori ini yaitu :
1.    Manusia mempunyai kapasitas terbatas dalam pemprosesan informasi,
2.    Ketika stimulus lingkungan melebihi kapasitas pemrosesan informasi, proses perhatian tidak akan dilakukan secara optimal,
3.    Ketika stimulus sedang berlangsung, dibutuhkan respon adftif. Artinya, signifikasi stimulus akan dievaluasi melalui proses proses pemantauan dan keputusan dibuat atas dasar respon pengatasan masalah.
4.    Jumlah perhatian yang diberikan seseorang tidak konstan sepanjang waktu, tetapi sesuai dengan kebutuhan.
b.    Teori ( Behavior Constraints Theory )
Premis dasar teori ini adalah stimulasi yang berlebih atau tidak diinginkan, mendorong terjadinya arousal atau hambatan dalam kapasitas pemprosesan informasi. Akibatnya, orang merasa kehilangan control terhadap situasi yang sedang berlangsung ( fisher dkk, 1984 ). Perasaan kehilangan control merupakan langkah awal dari teori kendala perilaku.
Istilah ‘hambatan’ berarti terdapat sesuatu dari lingkungan yang membatasi ( atau menginterferensi dengan sesuatu ), apa yang menjadi harapan. Avril ( dalam fisher, 1984 ), mengatakan bahwa ada beberapa tipe control terhadap lingkungan yaitu control perilaku, control kognitif dan control lingkungan. Control lingkungan mengarahkan perilaku untuk mengubah lingkungan misalnya mengubah suasana yang bising , membuat jalan yang tidak berkelok kelok, membuat tulisan / angka dalam tiap lantai gedung yang bertingkat, atau membuat pagar hidup untuk membuat rumah bernuansa ramah lingkungan. Control kognitif dengan mengandalkan pusar kendali didalam diri artinya mengubah interpretasi situasi yang mengancam menjadi situasi yang penuh tantangan. Control keputusan, orang mempunyai control terhadap alternative pilihan yang ditawarkan. Semakin besar control yang dilakukan, semakin membantu keberhasilan adaptasi.
c.    Teori Level Adaptasi
Menurut teori ini, stimulasi level yang rendah maupun yang tinggi, mempunyai akibat negative bagi perilaku.
Adaptasi dilakukan ketika terjadi sesuatu disonansi dalam suatu system, artinya ketidakseimbangan antara interaksi manusia dengan lingkungan.
Salah satu teori beban lingkungan adalah teori adaptasi stimulasi yang optimal oleh wohwill ( dalam fisher, 1984 ) menyatakan bahwa ada 3 dimensi hubungan perillaku lingkungan yaitu :
1.    Intesitas. Terlalu banyak orang atau terlalu sedikit orang, akan membuat gangguan psikologis. Terlalu banyak orang yang menyebabkan perasaan sesak ( crowding ) dan terlalu sedikit menyebabkan orang merasa terasing ( socialization ).
2.    Keanekaragaman. Keanekaragaman benda atau manusia berakibat terhadap pemprosesan informasi. Terlalu beraneka ragam membuat perasaan overload dan kekuranganekaragaman membuat perasaan monoton.
3.    Keterpolaan. Keterpolaan berkaitan dengan kemampuan memprediksi. Jika suatu setting dengan pola yang tidak jelas dan rumit menyebabkan beban dalam pemprosesan informasi sehingga stimulus sulit diprediksi, sedangkan pola-pola yang sangat jelas menyebabkan stimulus mudah diprediksi.
d.    Teori Stres Lingkungan ( Environment Stress Theory )
Teori stress lingkungan pada dasarnya merupakan aplikasi teori stress dalam lingkungan. Berdasarkan model input-process-output, maka ada 3 pendekatan dalam stress yaitu stress sebagai stressor,  stress sebagai respon / reaksi, dan stress sebagai proses. Stressor merupakan sumber atau stimulus yang mengancam kesejahteraan seseorang, misalnya suara bising, panas atau kepadatan tinggi. Respon stress adalah reaksi yang melibatkan komponen emosional, fikiran, psikiologis dan perilaku. Proses merupakan proses transaksi antara stressor dengan kapasitas diri. Oleh karenanya, istilah stress bias hanya merujuk pada sumber stress, respon terhadap sumber stress saja, tetapi keterkaitan antara ketiganya ( Prawitasari, 1989 ).
e.    Beberapa Ekologi
Perilaku manusia merupakan bagian dari kompleksitas ekosistem ( Hawley dalam Himman & Faturochman, 1994 ) yang mempunyai asumsi dasar sebagai berikut :
1.    Perilaku manusia terkait dengan konteks lingkungan
2.    Interaksi timbal balik yang menguntungkan antara manusia – lingkungan
3.    Interaksi manusia – lingkungan ersifat dinamis
4.    Interaksi manusia – lingkungan terjadi dalam berbagai level dan tergantung pada fungsi.
Premis utama teori ini organism environment fit model yaitu kesesuaian antara rancangan lingkungan dengan perilaku yang diakomodasikan dalam lingkungan tersebut.


Urban Environmental Issues: ISU LINGKUNGAN PERKOTAAN
Urban environmental problems are threats to people's present or future well-Masalah lingkungan perkotaan adalah ancaman terhadap masyarakat saat ini atau masa depan baik  being, resulting in human induced damage to the physical environment in or borne into ini, yang mengakibatkan kerusakan yang disebabkan manusia terhadap lingkungan fisik di atau ditanggung keurban areas. daerah perkotaan. Urban environmental issues are raised by urban development initiatives and Masalah lingkungan perkotaan yang diangkat oleh inisiatif pembangunan perkotaan dan are related to environmental problems. adalah berkaitan dengan masalah lingkungan. Diantaranya: The following table presents a wide range of urban environmental problems.Lokalized masalah kesehatan lingkungan seperti air minum tidak memadai dan sanitation facilities, indoor air pollution and excessive crowdingsanitasi, polusi udara dalam ruangan dan crowding berlebihan, 2.City regional environmental problems like ambient air pollution, inadequate andKota lingkungan masalah-masalah regional seperti polusi udara, tidak memadai, inefficient waste disposal management, pollution of water bodies and loss ofLimbah tidak efisien pembuangan manajemen, pencemaran badan air dan hilangnyagreen areas. daerah hijau, Ekstra perkotaan dampak kegiatan perkotaan seperti gangguan ekologi dan sumber daya depletion and emission of chemicals and green house gases. deplesi dan emisi bahan kimia dan gas rumah kaca dan The urban impacts of regional or global environmental burden that may arise fromPara perkotaan dampak beban lingkungan regional atau global yang mungkin timbul dari  activities outside the city's geographical boundaries, but will affect people livingkegiatan di luar batas-batas geografis kota, tetapi akan mempengaruhi orang yang hidup in the city. di kota. Urban Environmental challenges:
There is a number of emerging environmental challenges that cities will need toAda sejumlah tantangan lingkungan yang muncul bahwa kota-kota perluaddress. alamat. They are as follows: diantaranya  sebagai berikut:
1.    Providing basic environmental services in a way that most effectively protectsMenyediakan jasa lingkungan dasar dengan cara yang paling efektif melindungi healthkesehatan
a.    Access to safe potable water, sanitation and drainage facilities. Akses ke sanitasi yang aman diminum, air dan fasilitas drainase.
b.    b) Proper management of solid waste collection and disposal.Manajemen yang tepat pengumpulan sampah dan pembuangan.
c.    Pengurangan polusi dalam rumah tangga dengan menyediakan bahan bakar bersih untuk cooking and improved household ventilation. memasak dan ventilasi rumah tangga ditingkatkan.
2.    2.Dentifikasi dan pelaksanaan terpadu pendekatan untuk lingkungan perkotaan untuk prevent and abate the impacts of pollution and degradation.mencegah serta menanggulangi dampak dari polusi dan degradasi.
a.    Ambient polusi udara.
b.    Surface water pollution.Permukaan air polusi.
c.    Polusi air tanah dan deplesi.
d.    Penggunaan lahan dan degradasi ekosistem.
3.    Proper dealing with accidents and environmental disasters deriving from bothBerurusan tepat dengan kecelakaan dan bencana lingkungan yang berasal dari keduanatural and man made efforts. alam dan melakukan upaya. Some of the worst sites of ecological disaster are Beberapa situs terburuk dari bencana ekologi found in and around cities.ditemukan di dalam dan sekitar kota.
4.    4.Kemiskinan perkotaan dan kondisi lingkungan saling terkait. This poverty is Kemiskinan ini exacerbated by environmental threats that account for a large share of ill health,diperburuk oleh ancaman lingkungan yang menjelaskan bagian besar dari kesehatan yang buruk, awal kematian dan penderitaan bagi manusia.
5.    Urban environmental factors are affecting human health, particularly in the fieldFaktor lingkungan perkotaan yang mempengaruhi kesehatan manusia, khususnya di lapanganof fertility. kesuburan. In some countries, sperm counts are drastically reduced.Di beberapa negara, jumlah sperma yang berkurang drastis.
6.    Understanding the influence of urbanization on food system ie food supply,Memahami pengaruh urbanisasi terhadap pasokan makanan sistem pangan yaitu, pemasaran dan distribusi. Because of adulterated food supply in urban areas. Karena pasokan makanan tercemar di daerah perkotaan.
7.    Perkotaan gepeng. The population is increasing in urban areas, leading to the decline Populasi meningkat di daerah perkotaan, menyebabkan penurunan in the amount of open space available and urban poor will take up illegaldalam jumlah ruang terbuka yang tersedia dan kaum miskin kota akan mengambil ilegal residence on the periphery of the city.tinggal di pinggiran kota. These settlements become slums of the Pemukiman-pemukiman menjadi kumuh dari most appalling nature and adversely affect the environment.yang paling mengerikan alam dan mempengaruhi lingkungan.
8.    Konsumsi perkotaan dan pola produksi adalah akar atau penyebab utama darienvironmental deterioration. lingkungan kerusakan. Therefore better urban environmental management is Oleh karena itu pengelolaan lingkungan perkotaan yang lebih baik required. diperlukan.

Referensi
Fisher, A, Bell, P.A., & aum, A., 1984. Environment Psychology. New York : Holt, Rineheart dan Wiston.
Gifford, R. 1987. Environment Psycology : Principle and practice. Boston : Allyn and Bacon, Inc.
Helmi, A.F., 1994. Hidup di Kota Semakin Sulit. Bagaimana Strategi Adaptasiyang Efektif dalam Situasi Kepadatan Sosial ?. Buletin Psikologi, II (2) 1-5.